Kisah Salman Al-Farisi dalam Menemukan Indahnya Islam


Barang siapa yang memperoleh petunjuk Allah, tidak ada yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya, barang siapa yang disesatkan oleh-Nya, tidak ada yang bisa menunjukinya. Itulah sebagian penggalan ayat yang mungkin kiranya sesuai dengan sebuah kisah yang terjadi dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, bernama Salman Al-Farisi. Pencarian panjang Salman untuk menemukan kebenaran sudah melalui perjalanan yang berliku. Hingga akhirnya, ia menemukan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang membikinnya memeluk Islam.



Dikisahkan bahwa Seorang Laki-laki bernama Salman Al-Farisi" karya Dr Saleh as-Saleh, Salman dikatakan menceritakan kisahnya terhadap seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad yang bernama Abdullah bin Abbas. Abdullah kemudian menceritakan kisah seorang Salman itu terhadap yang lainnya.

Salman adalah seorang sahabat Nabi yang berasal dari bangsa Persia, yakni dari sebuah desa bernama Jayyun di kota Isfahaan. Ayahnya adalah seorang kepala desa. Sebab sikap baiknya terhadap sang ayah, Salman dipercaya ayahnya untuk mengawasi api yang dirinya nyalakan. Diketahui bahwa, ayah Salman merupakan seorang Majusi yang menyembah api.

Suatu hari, ayahnya memintanya untuk berangkat ke tanah miliknya dan memenuhi berbagai tugas yang dirinya inginkan. Tetapi dalam perjalanan menuju tempat yang dituju, ia mendengarkan suara orang-orang yang tengah shalat di dalam gereja Nasrani. Selagi hidupnya, Salman terbukti dibatasi ayahnya dari dunia luar. Rasa penasaran membikin Salman masuk ke dalam gereja dan menonton apa yang mereka lakukan.

Saat menontonnya, Salman mengaku bahwa ia menyukai shalat mereka dan berminat terhadap agama Nasrani. Salman terbukti mempunyai pemikiran yang terbuka dan leluasa dari taklid buta.

"Saya katakan (kepada diriku), 'sungguh, bahwasannya agama ini memang lebih baik daripada agama kami'. Saya tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam. Saya tidak berangkat ke tanah ayahku."

Salman berpendapat agama tersebut adalah keimanan yang benar. Ia lantas bertanya terhadap orang-orang di gereja, 'darimana asal agama tersebut?'. Mereka menjawab: 'Dari Syam'. Negara Syam saat dikenal tergolong empat negara, yakni Suriah, Yordania, Palestina, dan Lebanon.

Salman tetap mengingat ayahnya dan kembali, seusai ayahnya mengirim seseorang untuk mencarinya. Ia lantas menceritakan apa yang dialaminya dan tergolong keberminatannya terhadap agama Nasrani itu. Sang ayah lantas menegaskan, bahwa tidak ada kebaikan pada agama Nasrani. Ayahnya sangat bersikeras untuk tetap dalam pendiriannya bahwa agama Majusi merupakan agama nenek moyangnya yang lebih baik.

Tetapi, Salman menegaskan, bahwa agama Nasrani itu lebih baik dari Majusi. Sebab pendiriannya itu, ayahnya kemudian mengancamnya dan merantai kedua kakinya dan memenjarakannya di rumahnya.

Tetapi, faktor itu tidak lantas menyurutkan langkah Salman untuk melanjutkan pencariannya bakal kebenaran. Ia lantas mengirimkan pesan terhadap kaum Nasrani dan meminta mereka memberi berita apabila ada pedagang Nasrani datang dari Syam. Ia juga minta polong pada orang Nasrani untuk segera mengabarinya kapan rombongan dari Syam itu akan kembali ke negerinya. Seusai rombongan itu bersiap kembali ke Syam, Salman lantas melepaskan rantai dari kakinya dan mengikuti rombongan itu hingga tiba di Syam.

Saat berada di kota Syam, ia pun bertanya dan mencari sosok yang dirasa paling alim di antara orang dari agama mereka. Mereka kemudian menunjuk pada seorang pendeta di dalam gereja. Salman kemudian mendatangi sang pendeta dan mengatakan bahwa ia menyukai agama Nasrani dan bakal berkhidmah di gereja.

Tetapi, Salman menemukan sesuatu yang kurang baik dari pendeta itu. Salman pun menceritakan, bahwa pendeta tersebut memerintahkan kaumnya untuk membayar sedekah. Tetapi, ia hanya menyimpannya bagi dirinya sendiri dan tidak memberbaginya terhadap orang-orang miskin.

Salman yang membenci lakukanan sang pendeta. Hingga akhirnya sang pendeta meninggal, ia membuka kekurang baikannya terhadap kaumnya dan menunjukkan harta simpanan berupa tujuh guci emas dan perak yang disembunyikan sang pendeta. Kemudian kaumnya merasa enggan untuk menguburkan sang pendeta dan mulai mencaci makinya.

Tetapi sebelum sang pendeta meninggal, Salman bertanya dan meminta wasiat siapa yang bakal diikutinya seusai pendeta itu tiada. Sang pendeta kemudian menunjuk terhadap seorang laki-laki di Musil, kota besar di barat laut Iraq.

Salman pun mendatangainya dan tinggal bersama dengan orang yang berpegang pada aliran Nasrani semacam pendeta sebelumnya. Pada saat ajal mendatangi pria tersebut, Salman lalu meminta padanya wasiat untuk mengikuti orang lain yang ada di atas agama yang sama. Pria tersebut lalu menunjuk kepada seorang laki-laki di Nasibin, sebuah kota di tengah perjalanan antara Musil dan Syam, bernama fulan bin fulan.

Hal serupa kembali terjadi. Sosok yang diikuti juga meninggal, seusai Salman mengikutinya berbagai waktu. Sebuah wasiat yang sama kemudian diminta Salman padanya sebelum ajal menghampiri. Laki-laki itu mewasiatkan Salman untuk bergabung dengan seseorang di Amuriyah, sebuah kota yang adalah tahap dari Wilayah Timur Kekaisaran Romawi.

Seusai mendatang orang yang dimaksud, Salman kemudian bekerja dan memperoleh berbagai ekor sapi dan seekor kambing. Ajal mendekati laki-laki Amuriyah tersebut. Salman pun mengulang permintaannya. Tetapi, hari ini jawabannya tidak sama.

Laki-laki itu mengatakan: "Wahai anakku! Saya tidak mengenal seorang pun yang berpegang pada perkara agama yang sama dengan kita. Tetapi, seorang Nabi bakal datang pada masa kehidupanmu, dan Nabi ini berada pada agama yang sama dengan agama Ibrahim."

QS Al-Baqarah ayat 132, Nabi Ibrahim mewasiatkan ucapan terhadap anak-anaknya untuk tidak mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.

Ibrahim melamar Sarah dan Hajar. Keturunan dari pernikahannya dengan Sarah ialah Ishak, Yaqub, Daud, Sulaiman, Musa dan Isa alaihissalam. Dan keturunannya dari pernikahannya dengan Siti Hajar ialah Ismail dan Muhammad. Nabi Ismail dibesarkan di kota Mekah, Arab Saudi, dan Muhammad merupakan keturunannya.

Laki-laki itu mengfotokan Nabi Muhammad SAW. Dirinya bakal diutus dengan agama yang sama dengan (agama) Ibrahim. Dirinya bakal datang di negeri Arab dan bakal hijrah ke wilayah antara dua wilayah yang dipenuhi oleh batu-batu hitam (seolah sudah terbakar api). Ada pohon-pohon kurma tersebar di tengah-tengah kedua tanah ini. Dirinya bisa dikenali dengan tanda-tanda tertentu. Dirinya (akan menerima) dan mengkonsumsi (dari) mengkonsumsian yang diberbagi sebagai hadiah, tetapi tidak bakal mengkonsumsi dari sedekah. Stempel kenabian bakal berada diantara pundaknya. Apabila engkau bisa pindah ke negeri itu, maka lakukanlah.

Suatu hari, berbagai pedagang dari Anak cucu Kalb melaluinya. Salman lantas meminta mereka untuk membawanya ke negeri Arab dan sebagai gantinya ia bakal memberbagi sapi-sapi dan kambing yang dimilikinya. Tetapi ketika mereka mendekati Wadi Al-Qura (dekat dengan Madinah), mereka menjualnya sebagai budak terhadap seorang Yahudi.

Suatu hari, sepupu majikan Salman dari suku Yahudi Anak cucu Quraidha di Madinah datang berkunjung dan membeli Salman. Ia lantas mengangkat Salman ke Madinah. Hingga sebuahhari, Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

Salman mengatakan: (Suatu hari) saya sedang berada di atas pohon kurma di puncak salah satu rumpun kurma melakukan berbagai pekerjaan untuk majikanku. Sepupunya datang kepadanya dan kemudian berdiri di hadapannya lalu berkata, Celaka Anak cucu Qilah (orang-orang dari suku Qilah), mereka berkumpul di Quba16 di kurang lebih seorang laki-laki yang datang hari ini dari Makah mengatakan (dirinya sebagai) seorang Nabi!

Saya bergetar luar biasa ketika mendengarnya hingga saya khawatir saya bakal jatuh menimpa majikanku. Saya turun dan mengatakan, Apa yang engkau katakan? Apa yang engkau katakan? Majikanku menjadi marah dan memukulku dengan pukulan yang kuat seraya mengatakan, Apa urusanmu tentang ini? Berangkat dan kerjakanlah pekerjaanmu!"

Pada malam itulah, Salman berangkat menemui Rasulullah ketika berada di Quba. Saat berjumpa, Salman memberbagi apa yang dirinya simpan sebagai sedekah. Salman pun memperkenalkannya terhadap MUhammad. Rasulullah mengatakan terhadap para sahabatnya untuk memengkonsumsinya. Tetapi, beliau sendiri tidak memengkonsumsinya. Maka pada saat itulah, Salman merasakan keyakinan bahwa Rasulullah merupakan sosok Nabi yang dimaksud.

Salman kemudian mendatangi Nabi kembali dan mengangkat hadiah untuknya di Madinah. Ia mengatakan terhadap Nabi, bahwa dirinya tidak menonton Nabi memengkonsumsi mengkonsumsian dari sedekah. Sebab itu, ia meminta Nabi memengkonsumsi hadiah darinya. Nabi lantas memengkonsumsinya dan memerintahkan para sahabatnya untuk melakukannya. Saat itulah, ia menonton ada dua tanda kenabian pada diri Rasulullah.

Pada pertemuannya yang ketiga, Salman datang ke Baqi'ul Gharqad (atau tempat pemakaman para sahabat Nabi). Yang mana, pada saat itu Nabi tengah menghadiri pemakaman salah seorang sahabatnya. Pada waktu itu, Salman kemudian menyapanya dengan sapaan agama Islam 'Assalamu'alaikum', dan kemudian berputar ke belakangnya untuk menonton stempel kenabian yang difotokan kepadanya.

Ketika Nabi menontonnya, Beliau mengenal bahwa ia tengah berusaha membuktikkan sesuatu yang difotokan kepadanya. Beliau melepaskan kain dari punggungnya dan membiarkan ia menonton stempel itu.

Salman mengatakan: "Saya mengenalinya. Saya membungkuk dan menciumnya dan menangis. Rasulullah memerintahkanku untuk berbalik (yakni berkata kepadanya). Saya menceritakan kisahku. Beliau sangat menyukainya jadi memintaku menceritakan seluruh kisahku terhadap para sahabatnya."

Saat itu, Salman tetap menjadi budak majikannya. Sebabnya, ia tidak mengikuti dua peperangan menghadapi kaum kafir Arab. Tetapi, Nabi memintanya untuk membikin perjanjian dengan tuannya untuk membebaskannya dari status budak. Salman lantas memperoleh persetujuan dengan tuannya. Yang mana, dirinya bakal bayar majikannya 40 ukiyah emas dan sukses menanam 300 pohon kurma yang baru.

Nabi saat itu meminta para sahabat untuk menolong Salman mengumpulkan jumlah pohon kurma yang diminta. Nabi kemudian memerintahkan Salman untuk menggali celah yang lumayan untuk menanam bibit. Rasulullah kemudian menanam setiap bibit dengan tangannya sendiri. Salman lantas memberbagi pohon-pohon itu terhadap majikannya.

Nabi juga memberi Salman emas yakni sebesar telur ayam dan memintanya untuk memberi emas seberat 40 ukyah itu terhadap majikannya sebagai bentuk penebus utang. Salman pun pada akhirnya dibebaskan. Maka sejak saat itulah, Salman menjadi sahabat dekat Rasulullah Muhammad SAW.

0 Response to "Kisah Salman Al-Farisi dalam Menemukan Indahnya Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel